Di tanah ini debu terangkat oleh lars sepatu tentara. reruntuhan bangunan menjadi penanda singkat ada yang terhancurkan, ada ketakutan, pun raut muram suasana yang kami nikmati bersama angin yang mulai dingin. Di tanah ini pula kami menggigil ketakutan akan malam yang meradang, dipenuhi luka, dipenuhi sisa-sisa bau mesiu. Langit meninggi di labur kegelapan suram, asap-asap membumbung melingkupi nyaris di tiap sudut pandangan mata kami yang kian sayu.

Aku masih ingat saat bulan tipis di remang malam yang sedikit terisi oleh pijar lampu jalanan, hening sekaligus lengang. Ya, semuanya baik-baik saja, sampai ketika terdengar bunyi desingan burung besi menerabas kegelapan langit. Seketika itu seberkas nyala pijar oranye tak tertahankan menghujamkan serpih-serpih ledakan yang kemudian membumbungkan asap pekat yang menyesakkan, serta merta mengkonversi hidup menuju ketiadaan nyawa. Hanya berjarak beberapa meter kematian itu menyergap.

Apa alasan semua ini terjadi, saat nyawa begitu mudah ditepiskan oleh tabuh genderang perang yang cukup lama terdengar gemanya. Sedangkan kami di sini hanya bisa menggenggam batu sebagai pembelaan, sama seperti menggenggam keyakinan itu sendiri. Semua itu terjadi bersamaan dengan langkah kaki kami yang terusir. Namun keberanianlah yang membuat kami masih bernafas sampai saat ini, riaknya menjadi perjuangan rakyat Palestina yang menginginkan sepetak tanah ini terpetakan di tanah Arab, atas nama Palestina.

Apa ini semua adalah fase kehidupan yang mesti kami lalui, yang diisi dengan frase ketakutan yang mencekam, mencengkram kami dengan arogansi senjata yang menyalak dan menyingkirkan kami ke tepian tanah tempat kami lahir. Setelah terjadi sekian puluh tahun, tanah ini jadi saksi pepohonan tumbang, rumah kami runtuh, langit kehilangan pelangi, debu menderu bersama tangis kehilangan. Ya, bahkan kami turut menangisi tiap gugur dedaunan yang lepas dari pucuk ranting pohon zaitun yang kami tanam, sama seperti gugurnya para syuhada yang saat kematiannya diiringi tetes hujan yang membasahi bumi Palestina.

Aku tahu, nyala semangat untuk bertahan hidup masih ada, saat keyakinan dan keberanian bersinergi merapalkan doa dan perjuangan. Apa dunia menyebutnya?, Perlawanan rakyat palestina?. Atau menurut bahasa kami?, Intifadah?. Bagi kami lebih dari itu semua, bagi kami itu adalah semangat yang membara.

Di tanah ini, teh manis berarti sejumput daun teh dengan sesendok gula yang diseduh untuk menjaga kehangatan harapan. Di tanah ini, ketidakadilan sejarah adalah perjalanan panjang waktu yang diisi dengan perjuangan. Di tanah ini pula, selalu ada ruang untuk kesyahidan. Itu semua kami artikan dengan pekik keagungan Ilahi.

Di pinggiran Gaza, di Jerusalem, di Balata, di Nablus, di Ramallah, di dalam tenda Jabalia, atau bahkan dalam kerangkeng Ansar, jejak-jejak perjuangan kami tertinggal sampai titik darah penghabisan. Hanya untuk mengingatkan kami pada kenyataan dan perjuangan yang tak pernah terhenti oleh Galil Rifle mereka, deru geram tank-tank, dentum Jericho, bahkan moncong M-16 yang ditodongkan di hadapan kami. Perjalanan ini adalah kisah Mustafa, Ghassam, Khaled, Sayed dan para syuhada lain yang enggan takluk pada peperangan.

Pada tengah malam ini saat bulan terlihat bulat sempurna di langit Palestina, aku teringat 20 tahun silam saat Intifadah pertama bergulir, aku yang masih belia menggenggam batu yang kulempar melampaui pagar batas yang mengurung kami. Sampai waktu bergulir dan aku memanggul Qassam yang meletupkan isi amarah kami menentang penjajahan. Aku sadar nyala api semangat itu tak pernah meredup bahkan sampai saat ini… saat aku tergeletak memandang langit menjulang tinggi. Semua peristiwa berkelebat di pikiranku, yang diisi gambaran tangisan ibu kehilangan kakakku, wajah ayah meratapi tiap jengkal tanah yang ia terpaksa tinggalkan, ladang-ladang yang tertutup debu dan terhalang pagar pembatas, bunyi gemerisik kaca yang pecah oleh ledakan, reruntuhan yang lapuk, suara adzan yang mendayu serta sang fajar yang selalu memperbarui harapan kami. Putaran peristiwa mengisi tiap relung pikiranku kini.

Sementara aku terus menerawang langit, detak jantungku kurasakan melemah, denyutnya meluruh lirih. Darahku membuncah membasuh ragaku, melumuri keffiyeh yang melapis leherku. Kudengar gemuruh di kejauhan sayup-sayup mereda, bersamaan dengan pandanganku yang lamat-lamat mengabur. Aku masih saja menggenggam batu yang menemani perjuanganku, mungkin sama dengan saat aku menggenggamnya pertama kali. Nafasku menghablur, kesunyian menyublim, aku merasakan ruhku diangkat oleh tangan-tangan gaib yang hangat. Kulihat ke bawah rakyat Palestina menangis, aku pun turut menangis.

neaR, 13 Januari 2009
Setelah menyusuri tanah Palestina

Keterangan:

Intifadah     : Pemberontakan Palestina di Tepi Barat dan Gaza, dimulai pada tahun 1987 untuk memprotes pendudukan Israel.
Galil Rifle   : Senapan buatan Israel Military Industry.
Keffiyeh     : Sorban yang biasa dikenakan oleh rakyat Palestina, juga untuk menunjukan dukungan terhadap salah satu fraksi.
Qassam    : Roket yang sering digunakan pejuang Palestina untuk melakukan pemberontakan untuk pembebasan.
Jericho      : Rudal Israel yang digunakan untuk menyerang Palestina, memiliki jangkauan lebih jauh dibanding Qassam.
Ansar        : Penjara Israel bagi pejuang Palestina, ditujukan untuk memberi tekanan ’sedang’ pada pejuang Palestina.

Tulisan ini sy tulis karena ketertarikan sy pada dunia jurnalistik, berdasar riset di media, koran, majalah, tv, buku terutama karya Joe Sacco.

Comments No Comments »

satu helaan nafas hilang…

detak jantung penabuh arifku

sebelum sadar aku tak cukup ruang,

lekas bergegas menunai mimpi.

5 Des 2008, neaR

tuk Aen

Comments 3 Comments »

“Lantas apa permasalahannya?”, dia menatapkudingin menunggu jawaban, menyelidik dengan pandangan matanya yang kutakutkan menaklukkan perlindungan diriku untuk mengelak kenyataan. Ada keberanian yang berangsur-angsur menguat menepis ketakutanku, saat aku berkata, “Aku masih ragu”. Ia tak sedikitpun merubah ekspresi, sembari memegang gelas air minumnya. Aku yang ragu tuk melanjutkan percakapan ini , menarik nafas sejenak untuk sekadar memperoleh helaan yang menutupi keraguanku memulai percakapan pagi itu. Kalimat-kalimat interaksi kami yang intensitasnya menerabas udara kuyu di kisaran ruang Rumah Makan, dimana hanya ada kami berdua yang tekun menikmati sajian pengganjal perut.

Seraya kembali menajamkan pandangan, dia mampu melontarkan kalimat ringkas pada diriku, “Kurasa tiap orang memang selalu memiliki harapan. Kita terlahir dengan mimpi yang menjadikan, pun menuntun kita ke arah lebih baik”. Aku tak menanggapi pernyataannya, kuanggap itu retorika yang menggelindingkan pemahamanku, setidaknya untuk apa yang kuanggap benar tepat sebelum dia melontarkan pernyataan itu. Ya kukira mimpi selalu menjadikan kita nyaman, dan dimensinya adalah harapan yang kerap membuncah, pun menjadi tuntutan alamiah. Aku benci mengakui hal itu, seolah aku hanya pria yang berharap kosong untuk melebur ketakutanku dengan mimpi-mimpi yang pada kenyataannya kemudian ditepis oleh ketidakmampuanku. Aku ragu.

Di luar, masih saja padat aktivitas jalanan yang penuh lalu lalang kendaraan bermotor. Sedang kami di sini, di hadapan meja makan yang sajiannya sudah separuh kami tandaskan. Aku dan dirinya bercengkerama dengan waktu, yang semakin dalam menuntun kami pada ruang percakapan yang intens mengejawantah pemikiran kami. Dan kekosongan suara yang sesaat, kuisi dengan tatapan mataku yang beralih pada kaca yang meneruskan cahaya kejadian di luar sana, sebatas kusela untuk mengisi kekosongan babak. Di luar sana adalah tempat jalanan jadi ruang berderum kendaran menggenapkan aktivitas pagi itu. Namun kami, di ruang ini,adalah bagian dari perjalanan awan malam hari, yang masih menyisakan jejak dingin di tembok-tembok yang lembab olehnya. Dingin ruangan menjadikan aku mencari kehangatan di luar ruangan, entah apa yang ada di benak pikiran manusia-manusia yang kutatap di keterpisahan sekat kaca di hadapku. Yang pasti, dan yang kutahu saat ini, aku dan ia bergumul dengan pemikiran yang kerap tak sinkron, selalu ada singgungan yang membuatku bertanya tentang dirinya yang aku rasa terlalu naïf. Atau justru sebaliknya, aku yang salah menerjemahkan semua.

Namun pada akhirnya aku sadar ini interaksi dua arah. Aku tak boleh bergumul sendiri, larut dalam pemikiran subjektifku saat dia masih mau meluangkan waktu di hadapanku. “Kau tahu, aku tidak pernah menuntut apa pun”, aku mendesak reaksinya dengan pernyataan yang mengejutkan dia.

Aku salah saat ia berkata tegas, “Bagus, kurasa itu baik. Dan satu hal, kurasa mereka yang mengusung identitas itu pun berhak untuk memilih, menentukan yang terbaik”.

Aku hanya bisa berucap, “Tapi kurasa aku hanya bisa berharap untuk dimengerti”

Kalimat yang kumaksudkan sebagai gumamanku, meski kenyataannya suaraku mengisi udara sekitar kami. Dan ‘gumaman’ itu cukup untuk mencitrakan ketakutanku selama ini. Ada keterpautan dan jarak yang memisahkan dimensiku terhadap harapanku selama ini. Bahkan dia tahu itu, saat menegaskan, “Apa yang baik di mata kita tidaklah berarti di mata Tuhan, demikian sebaliknya”. Saat itu pula aku ingin berteriak “Aku tahu itu. Tak usah kau mengucapkan kalimat itu”, tapi rupanya tak ada ketegangan yang cukup untuk kulontarkan teriakan itu, hanya jadi bisikan hati. Kembali aku menemui tembok yang membenturkan pikiranku, sembari masih mempertanyakan semua memori yang menenggelamkan aku dalam keraguan. Selama ini aku mencari makna ‘yakin’, entah untuk aku pergi menjauh atau mesti terus larut dalam kisaran yang mendesakku pada perasaan.

“Untuk satu hal, aku hanya ingin berkarya. Sama hal seperti aku ingin berubah”, ucapku ragu.

“Kupikir setelah aku memutuskan menjalani hidupku saat ini, aku merasa nyaman. Lebih fokus menjalani semuanya, dan istriku pun mendukung semua kulakukan. Untuk hal yang lebih baik”, ucapnya.

Saat itu aku sudah merasa cukup dengan ucapannya, dan aku tak meragukan perasaan yang ia miliki, ruang kehidupan yang ia tekuni bersama pendamping hidupnya. Kemudian ia bercerita banyak tentang dia dan istrinya, mengakui terkadang ada perselisihan di antara mereka, namun ia menganggap hal biasa dan jalan pendewasaan diri. Atau saat ia menceritakan alasan istrinya belum hamil, “Kami sudah mencoba, belum dikendaki Tuhan”. Aku hanya bisa tersenyum menanggapinya.

Dari dia aku tahu, aku harus menggarisbawahi kalimat ‘untuk hal yang lebih baik’. Namun ada yang tak kusanggupi untuk satu hal, memutuskan sesuatu terkadang sulit dan membutuhkan konsekuensi. Tak perlu ada tudingan untuk ketidakmampuanku, aku tahu aku tak berani, terlalu sering bergulat dengan pertanyaan-pertanyaanku sendiri dan bergumul di dunia yang kukreasi sendiri. Entahlah, ada yang tak kupahami.

Ruang di sekitar kami serasa menyempit, saat gelas yang berisikan air teh-manisku turut ia minum.

“Aku sedang berusaha mengurangi minum air dingin”, dia tersenyum padaku. “Tapi kini kurasa aku harus melanggarnya”

Tegukan itu menengahi interaksi singkat kami, menegaskan bahwa tidak ada jarak yang cukup jauh untuk mulut kami bermuara pada satu gelas. Di tepian gelas itu, ucapan kalimat kami mencair, menyatukan pemahaman. Meskipun menemui bentuk dingin air teh itu, kami merasakan manis yang sama dari tegukan itu. Namun lebih jauh dari mula semua percakapan kami sebelumnya, aku menganggap segelas air-manis teh bukan bagian dari solidaritasku pada dia. Biar kuterjemahkan sendiri percakapan singkat kami pagi itu.

“Tiap orang ingin berubah, dulu saat aku seusiamu terlalu sering tertidur sama seperti dirimu. Tapi kau akan tahu terlalu banyak tidur tidaklah baik”, nasihat akhir dari sobatku. Aha, saat ini nasihat itu tak cukup membantuku untuk terjaga, perlu lebih dari itu …ha ha.

Akhir semua percakapan singkat di ruangan itu mengantar kepulangan kami pada jejak yang sama, yang runut dan memaksa percakapan sebelumnya terus berlangsung, meski ada ucapannya yang tak kutanggapi. Bagiku sudah cukup percakapan kami sebelumnya. “Kau beruntung bisa mengenal sosok yang mempengaruhi hidupmu. Dulu aku tidak pernah mengalaminya”, ia berkata demikian saat aku melamunkan semua memori yang telah terjadi dan bersaman dengan itu melihat apa yang terjadi di hadapanku kini, saat langit suram membisikkan gemuruh mengiring deru motor kami. Aku masih memikirkan kata ‘mempengaruhi’.

Ada pemahaman yang melesat-lesat di relung pikiranku pada kubangan hidup yang kian angkuh, saat ia menutup percakapan akhir kami, “Kau tinggal menikmati semuanya”.

near yakin

ketika lagu ‘perjalanan menjaring matahari’ berdengung di telingaku,

teruntuk sobatku yang masih saja kerap menasihatiku, “terima kasih tuk percakapan pagi itu”.

Comments 1 Comment »

Perpindahan selalu menjadi kisah tersendiri yang lekat pada tiap pribadi. Yang bergerak bukan sebatas fisik terhadap ruang dan waktu. Lebih dari itu, saat kita diharuskan berpindah dari satu titik sampai pada titik selanjutnya baik yang dikehendaki atau tidak, kita dihadapkan pada suasana baru yang asing dengan membawa serta yang kita miliki. Tapi tidak bagi para pengungsi perang, yang mereka yakini adalah sebatas tindakan mengungsikan raga dengan menyisakan harapan yang terkadang menyesakkan, meninggalkan tempat lahir, meninggalkan memori yang pernah terjadi, menghadapi tanah lapang tak bertuan yang tak mereka ingini sebelumnya atau bahkan tak kuasa menahan kesedihan akibat kegetiran melihat yang terjadi. Ada keterpaksaan akibat situasi tak berpihak bernama perang. Mungkin kita sadari semua proses perpindahan adalah menuju titik yang wajar ada, tapi tidak untuk situasi di medan perang yang jadi arena kekuatan disuarakan lewat desing peluru, debu yang diterbangkan pijakan sepatu lars tentara dan deru roda yang membawa mesin-mesin pembunuh.

Pengungsi mungkin hanya secuil kisah yang terlupakan di antara tembok-tembok yang retak oleh hantaman bom atau cerita sedih saat tubuh tak bernyawa tergeletak menghiasi medan laga. Detail sesungguhnya yang dilihat dari kacamata para wartawan perang tampak begitu tragis penuh carut marut. Meski ada senyum tapi keadaan memaksa pelakunya mengimbuhkan kata miris di belakangnya. Di sisi lain, tanah-tanah tempat tumbuh kembang kehidupan ditempati para pengungsi dalam kondisi segala keterbatasan. Para wartawan menggambarkan semua itu dengan detail yang tragis, sama sekali tidak perlu dramatisasi, setengah penekanan saja sudah cukup menjelaskan bahwa batu pun jadi senjata terakhir bagi para pengungsi untuk membela diri.

Batu-batu, tanah retak, reruntuhan bangunan, deru debu, asap sisa tembakan, lebih-lebih pepohonan yang tak berdaun seolah menandai kehidupan diusir dari tanah tempat senjata diperadukan. Kita tak pantas menyalahkan senjata untuk semua peluru yang terlontar dari dalamnya, sebab alasan perang ada pada pemilik kekuasaan yang menggerakkan balatentara dari barak-barak mereka.

Balatentara digulirkan untuk mengusik situasi damai menuju gesekan-gesekan atas nama ideologi, kekuasaan, kolonialisme, tapal batas bahkan agama. Para tentara hanya bidak-bidak yang dipersenjatai oleh para menteri negara, sedang sang raja bertindak mengatasnamakan hasrat yang tak berperikemanusiaan. Ketika adegan dramatis tentara yang jatuh karena tertembak peluru bisa ditangkap kamera oleh Frank Capa, raut wajah dunia berkabung. Tapi apa sebab perang terus berlangsung di tengah hiruk pikuk peradaban modern?, sedang para pengungsi perang tak sedikit pun menikmati kata modern akibat gemuruh perang di hadapan mereka.

Pernah suatu kali di benua Eropa, perang dimulai dari kebohongan-kebohongan yang dipropagandakan oleh Adolf Hitler untuk menguasai separuh lebih Eropa. Sedang di tempat lain, kemajuan disalahartikan dengan invasi oleh para jenderal yang menganggap samurai adalah senjata fatal untuk memenggal kepala manusia di seberang lautan negerinya. Sampai akhir semua itu bom atom meledak mengakhiri kisah panjang peperangan. Namun sampai saat ini masih ada celah yang menunggu retak oleh kuasa pemimpin negara-negara yang memiliki nuklir di atas tanah negerinya. Kisah itu tampaknya masih mesti berlanjut sampai saat ini.

Yang terlihat oleh Joe Sacco, di Palestina tempat ia bertualang dengan kamera dan pensilnya, ia bisa melihat grafiti digoreskan untuk menyuarakan teriakan kebebasan atas tindakan penjajahan. Di sini kita pernah dihadapkan pada situasi sama saat tulisan “Indonesia for the Indonesians” melatarbelakangi perjuangan rakyat melawan agresi pihak asing. Dari sekadar goresan-goresan tak berarti itu perjuangan dimulai tidak dari titik nol, sebab keyakinan kebebasan telah mampu meloncati tembok tinggi ketidakmampuan untuk bertindak atas nama perjuangan.

Perang adalah bencana kemanusiaan, sedang senjata hanya alat yang difungsikan oleh manusia itu sendiri.

neaR Yakin

usai membaca komik jurnalistik karya Joe Sacco dan melihat pameran foto ‘Kebangkitan untuk Kebangsaan’ di Antara

Comments No Comments »

Surat tuk segenap MAFOSO dan MAFOSITA

Apa yang kudapati di kampus STAN ini adalah kegilaan menjalani Ujian (dengan huruf awal kapital) yang menjadi penanda mahapenting dari masa singkat masa tiga tahun memakan bangku kuliah. Bukan karena saking lapar perutku menghadapi kondisi ekonomi akibat kiriman orangtua yang menjadikanku tertekan hingga akhirnya memakan bangku dalam artian denotatif. Enam kali jantung berdegup kencang demi menanti munculnya namaku di kolom yang-lulus (baca: yang-lolos). Terlebih lagi sebodoh apa aku mesti menjalani terapi pewarasan otak sampai-sampai memiliki hobi tidur di kelas, telat berada di depan pintu ruang atau dicap sebagai bagian yang-tak-waras oleh para kompatriot di kelas, pun oleh salah satu dosen yang satu puak denganku.

Dalam rangka menegakkan hobi sampingan yang tak jarang menandaskan isi kantong, menyisakan kertas-kertas catatan barang terbeli, aku menjalani dunia jepret dan kamar gelap. Yang kugenggam di tanganku bukan pena berujung tajam namun mekanisme usang sisa peradaban yang dibangun oleh Daguerre, Niepce, George Eastman atau semisal mereka yang melulu berkubang dengan pemikiran bagaimana mensiasati cahaya masuk dalam ruang kedap cahaya bernama kamera. Di MAFOS aku menjalani persahabatan yang cukup wah, dengan perangai komikal, tingkah yang sok dewasa sembari kaum lelakinya dengan PeDe mengusung kalimat ‘any girl likes photographer’. Hiks hiks :( sayangnya jargon itu tak berlaku terhadap sesama fotografer.

Jika Narcissius turun ke bumi, ia bakalan iri melihat tingkah laku anak muda jaman sekarang, terlebih makhluk MAFOS, yang doyan numpang lewat depan kamera dengan gaya khas anak muda. Dan untuk mengunyah kebosanan menjalani doktrin diklat, kami sering berkelana ke pojokan ibukota disisipi keinginan menangkap imaji. Pun semuanya untuk meneguhkan makna persahabatan kami. Banyak momentum yang terlahir dari rahim persahabatan itu. Aku jadi ingat ujaran teman seperjuanganku sesama penjepret kamera, “lebih serasa kuliah di MAFOS dibanding kuliah di STAN”, sontak kuiyakan saja ucapannya. Ups, maaf kepada orang-orang yang memberi angka pada kolom nilai kami jika kami mendudukkan STAN sebagai subordinat dari MAFOS. Kuharap kebijakan kami yang satu ini tak perlu dipertanyakan alasannya, bukan maksud untuk menyaingi kebijakan mereka yang men D.O. salah satu sobat kami. Kelak akan kuceriterakan pada anak cucuku bahwa kakek mereka adalah lulusan MAFOS. Namun jikalau mereka mempertanyakan ijasahku yang berlabel STAN, setidaknya aku punya alasan bahwa huruf S pada MAFOS cukup mewakili keSeTANan-ku (becanda). Tapi No matter what, STAN is still in my heart.
Tetap luangkan waktu mendengar jepret kamera Biarkan mekanisme di dalamnya menyatu dengan pemikiran kalian tuk menghadapi imaji hidup yang runut memaksa kita tenggelam dalam MisteriNya.
Kepada anak MAFOS yang membaca tulisan ini, tolong percayalah bahwa aku mencintaimu… ups ehmm salah, aku mencintai kalian.

tertanda ( dari yang tertunda)

neaR Yakin

NB. Maaf jika bahasa yg ku gunakan salah, karena selama kuliah Bahasa Indonesia aku cuma fokus dengan kalimat “Bu dosenku cantik” xP…

Comments 4 Comments »

Tentu kita masih ingat saat masih kecil diajarkan untuk berpuasa setengah hari. Saat waktu dzuhur tiba, para bocah cilik berlari meminta makan ke Ibu kemudian dengan lahap makan dan melepaskan dahaga yang sedari pagi tertahan di perut dan tenggorokan. Setelah itu mereka kembali melanjutkan puasa yang sempat disela lahap makanan dan reguk minuman. Saat ini aku tersadar bahwa awal pijakan kita mengenal agama adalah pengalaman masa kecil yang diinduksi oleh ajakan orang tua untuk belajar mengenal agama. Dan selanjutnya perjalanan waktu tidak saja menegakkan tubuh kita pada raga yang tumbuh dewasa tapi juga meretas tapak-tapak kedewasaan kita tuk mengenal hidup. Saat kedewasaan itu hadir, agama tak lagi sepantasnya kita kenal dari ajakan orang tua, tapi mesti kita kenal dalam tindakan tafsiran, melalui pengalaman ruhani yang terlampau subjektif.

Beberapa waktu yang lalu aku mengendarai motor melaju di tengah arus mudik, membelah ritme aktivitas manusia berkendara, aku melihat keberlangsungan perjalanan yang melelahkan raga. Semuanya tampak terpola, dimana manusia-manusia bergerak tuk satu tujuan nun jauh di tempat mereka akan menemukan wajah orang tua dan kampung halaman tempat mereka mengenal teman-teman masa kecil. Seperti arus air sungai yang ritmis dengan riak-riak kecil yang membawa sejuta harapan tuk kembali menapak tanah tempat lahir atau tumbuh kembang. Bising kendaraaan menjadi teman perjalanan yang ditingkahi debu yang lekat menyentuh kulit. Lamat-lamat dari kejauhan di bawah tatapan mentari yang menyisakan bau keringat dan di tengah deru mesin yang gemerisik, yang terlihat hanya asap dan debu jalanan dari terik siang yang semakin angkuh menemani para penglaju. Perjalanan itu mesti menghadirkan sintesis pengalaman tuk memaknai kembali hari kemenangan sesampai para pemudik di tempat tujuan. Ah, perjalanan memang melelahkan.

Seperti halnya Ramadhan yang memang memaksa kita untuk menahan lapar dahaga dan hawa nafsu yang meronta, tertahan dimenangi kejernihan hati. Terlebih di sini, dimana perjalanan memaksa batas rasional dan emosi dipertaruhkan lebih dari pertanyaan tentang tempat tujuan, sepanjang hamparan jalan ditimpa roda-roda yang membawa jutaan manusia bergeser per kilometer, maka perjalanan menempuh kilometer jalanan aspal ini bukan semestinya menjadi kesimpulan singkat. Perjalanan ragawi bukanlah definisi akhir, yang jadi sekadar pengingat bahwa keterasingan kita di perantauan adalah untuk menemui asal diri kita, tempat mula kita mengurai hari-hari dini. Tiba di tempat peraduan mudik, yang mungkin akan kita lakukan adalah membaui tanah tempat kita tumbuh dewasa dan berkembang di tengah hiruk pikuk pencarian jatidiri. Dan puasa ditujukan untuk mensucikan hati, menyisakan secarik kertas putih yang nantinya kita tulis kembali dengan tingkah laku kita dalam mensiasati kehidupan, dengan amalan, doa, dan pengharapan. Pun dosa, yang sengaja atau tidak, terwujud di keseharian kita, serta keinginan menjalani kehidupan diiring kebahagiaan.

Hendak kemana kita? Saat semua mesti bermula (kembali) untuk jiwa-jiwa yang suci yang mengarungi perjalanan panjang dari kita terpekur sampai kita beringsut mendalami makna puasa. Semestinya kita perlu mengubah definisi pendek tentang puasa yang selama ini berkisar pada urusan mengosongkan perut dan atau tentang urusan ragawi semata. Semuanya kembali ke kedalaman hati kita, hanya jika kita sadar agama adalah tuntunan bukan tuntutan. Apa yang kita cari adalah titik awal, yang ditafsirkan usai meluangkan waktu tuk memaknai lapar dan dahaga, serta menahan hawa nafsu. Semua itu karena kita bukan bocah kecil lagi yang hanya bisa menyapa agama. Perlu lebih dari itu.
Dan ‘titik awal’ itu terjadi sesaat dari sisa hidup kita yang sementara ini masih diberi nafas panjang. Tapi aku sendiri ragu akan diriku tuk bisa mengerti…

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H, Taqoballahu minna wa minkum.

oleh: Aenul Yakin *
ditulis usai baca tulisan solilokui Arys Hilman di salah satu koran di rumah, yang mempertanyakan makna mudik.
*) penulis adalah pengisi kolom tulisan di harian Repotblika

Comments No Comments »

Kisah novel atau cerpen masih kerap dimulai dengan ‘suatu hari’, ‘suatu ketika’, kemudian berlanjut dengan cerita-cerita tentang peng-aku-an, atau subjek yang tak jauh beda dari ‘aku’ sang pengarang. Mana tahu sang pengarang saat ia tekun menulis, tentang cerita-cerita lain di luar, Yang ia tahu saat ia memaparkan kata-katanya yang terkadang dibuat bombastis, ada ego dituliskan dengan bumbu-bumbu dramatisasi adegan, kisah teatrikal yang surut di akhir cerita tapi dengan polah pelaku yang (acapkali) menuntut kebahagiaan. Tapi yang pasti tulisan mereka sekadar premis dari apa yang mereka rasakan di kehidupan, atau yang mereka duga dari kehidupan. Satu helaan nafas tak kan cukup untuk menceriterakan tiap kisah, tentang para penulis yang bersikap bak Tuhan, seenaknya mematikan tokoh fiksinya, memainkan karakter pelaku, dan akan kutuntut mereka kalau-kalau kisahnya tak sesuai kehidupan. Wajar jika aku mengharap demikian benarnya kata-kata bercerita dengan perspektif yang sesuai ‘realita’. Tapi pertanyaannya realita yang mana? yang dilantunkan oleh penyair-penyair seperti Nizami, Taufiq el Hakim, atau realita yang melantur ala sinetron Indonesia.

Biarlah inginku tak sampai pada para penulis, karena mereka yang berkuasa dengan penanya, menghardik, main hiperbola, menyindir, nyinyir berkata-kata, satiris, tajam, santun, riuh atau lebih-lebih lagi saat menuangkan makna spiritualis mereka, yang konon jadi ordinat nilai estetis. Mana kutahu bahwa Chairil Anwar begitu cerdas menungkapkan sisi spiritualnya dengan ‘Aku’ yang sialnya menunjukan keangkuhan diri. Oh, aku lupa dia bukan pengarang novel ala Marga T, dia cuma bocah tengik yang sok-sokan berkoar tentang keprihatinannya terhadap nasib bangsanya. Tidak ada roman ala Marga T, yang ada puisi pendek-pendek yang tak layak dibaca pada masanya. Beruntung foto dirinya masih saja terpampang dengan kesan gelapnya sembari mengepulkan asap rokok, “Sekali Berarti Sudah Itu Mati”, tulisan yang bersanding di wajahnya.

Para penulis hanya sekumpulan manusia yang berkisah sembari membayangkan kisahnya beredar ke dalam alam pikiran pembacanya. Penghargaan awal bagi sang penulis adalah saat karyanya dibaca, penghargaan tertinggi adalah saat karyanya merubah (atau setidaknya mempengaruhi) hidup pembaca. Dan saat ini bonus untuk penghargaan bagi mereka adalah dituangkan imaji tulisan para pembaca ke dalam 3 dimensi film yang diputar di bioskop, yang ditonton oleh penonton tidak dengan membawa bungkus popcorn di tangan tapi membawa ‘kertas catatan di pikiran’. “Pembaca memiliki bioskop sendiri di kepalanya” itu tuturan si ikal, Andrea Hirata, dan oleh manusia berambut ikal lainnya, bioskop itu ditampilkan secara ‘nyata’. Aku yang belum sempat baca tuntas buku Laskar Pelangi, tak ayal hanya bisa menerka bakalan seperti apa jalan cerita sang sutradara sesungguhnya dibandingkan dengan kreasi sang sutradara ‘penyaru’. Andrea menceriterakan kenyataan yang tampak tak nyata, dengan sentuhan fiktif ala saintis, dibumbui kalimat-kalimat deras yang konotatif, pusing aku membacanya. Tampak bodoh aku memahami kalimat-kalimatnya.

Tapi kita sebagai penikmat tulisan (baca: karya) selalu mengharap ada kebahagiaan di tiap kisah yang kita ikuti. Terutama romantisme, sebuah kata-kata yang (selalu) ditulis dengan huruf kapital, bahkan di novel yang konon mengusung kisah agamawi sekalipun. Mengharapkan romantisme hadir pada suatu karya (tulisan) adalah mengharapkan hal itu menjadi kenyataan yang dimensional, karena kita selalu terhibur dibuatnya. Tapi sial terkadang kisah itu sulit kutemui bahkan di kehidupan nyata sekalipun, namun The show must go on, ada atau tidak ada kisah ala Romeo dan Juliet, cerita masih berlanjut.

Dan seperti kutipan lagu Laskar Pelangi yang didendangkan oleh si ‘ikal yang lain’,

Menarilah dan terus bernyanyi,

Walau dunia tak seindah surga

Dan pada akhirnya apa yang akan kau dengar dari mulut para penulis saat ia memegang pena adalah,

“Ya, akan kuciptakan duniaku sendiri, dunia yang penuh imaji-imaji liar. Simpton berubah jadi tindakan, tak ada gumam yang ada adegan”.

Tapi apa mesti menampik kenyataan?

Uh, persetan realita…”

Sebab selalu ada ruang fiksi, tempat mimpi-mimpi dan harapan diperadukan.

oleh Aenul Yakin*

ditulis saat sedang menghadapi kebingungan cinta karena seorang wanita yang ia cintai.

*)Sampai saat ini penulis masih berstatus sebagai cerpenis yang gagal

Comments 2 Comments »

Kemarin aku bercakap-cakap dengan seorang sahabat, saat membaui sore hari. Seolah mewakili seluruh pemikiranku, ia menyertakan pertanyaan yang menggelitik.

Sobatku : Sobat, apa yang kau pikirkan saat ini?

>>Masa depanku, entahlah baru akhir-akhir ini memikirkan perihal tersebut. Rasanya aneh aku masih bisa berdiri saat ini, meski tidak dengan menegakkan kepala, sementara itu kehidupanku ke depan masih tak kasat mata.

Sobatku : Sudah punya rencana hidup ?

>>Dulu tidak. Kini, mungkin karena sudah hendak lulus dari STAN, jadi kepikiran kerja dan bagaimana kehidupanku kelak. Lulus, kerja penempatan luar Jawa, kuliah S1 ekonomi, kuliah S2 sastra atau antropologi, jadi guru… bal bla bla. Cukup idealis…

Sobatku : Lho dimana idealismemu Bung, kau memilih kuliah S1 ekonomi?

>>Ayolah, S2 sastra cukup menjelaskan idelismeku. Dan untuk S1 ekonomi, rasanya aku masih bisa membedakan idealis dan konyol. Kuharap idealismeku bisa bertahan lama

Sobatku : Tentang masa depan, apa yang ada di pikiranmu?

>>Dulu kupikir masa depan mendekati manusia, nyatanya manusia yang  semestinya mendekati masa depan. Seperti sebuah misteri memang

Sobatku : Kenapa baru sekarang memikirkan rencana hidup ?

>>Mudah saja menjawabnya, aku hidup mengalir laiknya air. Pendulum kehidupanku masih liar bergerak, meski kini coba kuarahkan, tapi ada yang lebih berkuasa.

Sobatku : Dan apa alasanmu merancang rencana hidup?

>>Hei, kita perlu berkompromi dengan waktu, usia akan mendewasakanmu, atau setidaknya menyadarkanmu. Sesederhana itu, meski kenyataannya pelik.

Sobatku : Rencana menikah ?

>>Nah itu, tidak ada rencana kapan menikah, mengenai menikah rasanya seorang pria mesti berkompromi dengan Tuhan.
Mengutip ujaran pemikir Inggris ‘bagi seorang pria, Tuhan dan wanita adalah dua batu karang tempat ia berlabuh dan tandas’. Meski saat ini aku tidak memilih kedua jalan menuju batu karang tersebut, lebih karena ragu dan merasa tak pantas diri.

Sobatku : Maksudnya ?

>>Aku tak memilih menekuni jalan menuju Tuhan, agama. Pun tidak berada pada jalan romantisme seorang pria.

Sobatku : Artinya kau menjauhi keduanya ?

>>Ada jarak yang memisahkan aku dengan Tuhan dan wanita. Yang memisahkan itu hanya kata ‘ingin’, aku mendefinisikannya sebagai sekat pemisah antar harapan dan kenyataan, lebih serupa kehendak yang tak tercapai. Dan kini aku lebih coba ‘mengakrabkan’ diri dengan permenungan, keheningan. Living silence, loving silence.

Sobatku : Dan tentang mencintai dan cinta ?

>>Mencintai maka kau kan kehilangan logika, dan menjelaskan arti memberi. Mengenai cinta, itu seperti menggerakkan bumi untuk berrevolusi pada matahari, ada gravitasi yang tak tampak. Pun manusia tergerak olehnya, tapi tak tahu kenapa. Sebagian besar orang menyebutnya karunia Tuhan.

Tentu kau tak menyangkal kisah romeo dan juliet tak ubahnya tragedi, dan kau tahu itu romantisme yang kerap diagungkan sebagai jalan cinta bagi pelakunya. Berakhir tragis tapi ada sisi terang yang hadir menyangkal racun yang diminum mereka, itu adalah kesesuaian cinta mereka yang dipertemukan oleh Tuhan. Nah disini…

Sobatku : Ehm… aku tahu, maksudmu Tuhan menghendaki mereka ‘bersatu’, dan itu karena cinta ?

>>Yah mungkin demikian adanya. Ehm tapi aku lebih menyetujui Taufiq el Hakim yang bercerita tentang Romeo dan Juliet dalam sudut pandang berbeda. Terkadang Romantisme hanya ’kesesaatan yang menyesatkan’.

Sobatku : Lantas mengenai cinta kerap menghilangkan logika ?

>>Susah menafsirkan perihal cinta, membayangkan logika hilang karenanya atau tindakan bodoh demi pembenaran atas nama cinta, keterwakilan mengarungi samudera bagi seorang pria, selalu terjaga mengingatnya dan bla bla bla… rumit bung. Oleh karena itu kau perlu sedikit merenung, mendekatkan diri pada Tuhan, itulah kenapa aku lebih memilih berkompromi dengan Tuhan perihal wanita. Dan menurutku itu tak berarti menghindar dari kenyataan.

Sobatku : Aku ingin tahu, saat ini bagaimana dengan dirimu ?

>>Rasanya bukan tragedi Romeo dan Juliet, bukan pula ceracau Majnun untuk Laila. Lebih seperti ‘gravitasi satu arah’

Sobatku : Ha ha ha… aku tahu itu, kukira kau tak cukup bodoh untuk mencintai seorang wanita?

>>Logikaku dipertanyakan di sini, mengharap yang absurd dan berinteraksi dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh. Perlu ada konfrontasi tuk mengenal lebih jauh tentang cinta.

Sobatku : Apa yang kau tahu tentang wanita ?

>>Yang jelas mereka menyukai pria yang humoris dan… ehm dan mereka tidak menyukai pria yang jujur. Sayangnya aku tak cukup pantas menyaingi Tukul dan cukup ’jujur’ untuk ukuran seorang pria.

Sobatku : ehmmm… JUJUR?

>>Ayolah… kau tahu diriku, jika ditanya berapa istri yang ku ingini, tentu aku akan menjawab ’hei aku kehilangan empat tulang rusuk’ pastinya bilangan empat… ha ha ha. Dan kukira aku tak bisa berbohong tentang wajah seorang wanita berjerawat.

Sobatku : aha, kau memang seperti yang kukenal. Ehmmm dan apa tanggapanmu tentang mereka ?

>>Yah… lebih seperti masa depan.

Sobatku : Maksudmu wanita adalah masa depanmu ?

>>Oh bukan. Maksudku sama-sama membingungkan dan penuh misteri. Ha ha ha…

Sobatku : Ha ha ha… logikamu rendah Bung.

>>Tentu saja, aku sudah kehilangannya sejak aku mencintai seorang wanita. Ha ha ha…

Sobatku : Ha ha ha… Oke, senang bercakap-cakap denganmu.
>>Yah kuharap kau tak kecewa dengan pemikiran bodohku

Sobatku : Yap semoga tidak… dan kau punya pesan terakhir untukku?

>>Masa depan tidaklah menjadi misteri, tapi lebih serupa histeria saat kau tahu apa yang kau pijak. Dan cinta tak lain adalah arti dari keikhlasan. Oiya… tolong jangan kau ingat pernyataanku tentang empat istri… :)
Sobatku : :P

Comments 1 Comment »

Seperti lirik terakhir lagu Take Away My Pain, Dream Theater

the final scene                            
                                           adegan terakhir
the actor bows
                                           sang aktor tertunduk
the crowd applauds                                                       
                                           riuh tepuk tangan
the curtain falls                            
                                           tirai tertutup
and all those years are gone somehow              
                                           dan seluruh tahun silam terlewati  begitu saja

Aku ingat saat aku menyanyikan lagu itu, sebagai hukuman keterlambatan, saat pelajaran hukum perburuhan.
Pak Koes saat itu memaksakan untuk mengajar meski kami sekelas tahu beliau sedang sakit. Aku salut dengan keteguhan beliau.
Sayangnya saat itu, dan seperti biasanya, aku tak pernah mendengar kuliah yang diajarkan Pak Koes. Aku terbiasa tidur atau ngobrol di belakang. Mungkin itulah kebandelanku di hadapan beliau, mungkin pula aku bukan mahasiswa kesayangan beliau.

Tapi yang pasti saat ini, saat aku mendengar beliau meninggal, aku berkabung.

Dan entah karena kebetulan atau tidak lagu itu sesuai dengan cara ia berpamitan.
Sang aktor tertunduk, mengakhiri dramanya. Tirai tertutup saat usia menggamit nyawanya, takdir lebih lantang dari kehidupan itu sendiri. Masa yang nyalang seolah bertemu akhir dan tertutup tirai.

Bagiku beliau adalah ksatria itu yang mengakhiri perjalanan hidupnya, dengan bertahun-tahun mengabdi untuk mengajar mahasiswa, memberi nasihat, berbagi ilmu dan pengalaman. Aku kagum.
Dalam duka, kami berdiri dan bertepuk tangan atas segala amal hidupnya, pun keyakinan yang ia tanamkan pada diri kami.

Kami berterimakasih atas apa yang ia berikan…

Comments 1 Comment »

yap akan kuceriterakan keadaan kamarku

tempat lemari reot yang miring 20 ke arah utara dan terpaksa kusenderkan pada dindingku, diisi oleh pakaian yang dah lama mengisi lemariku, mungkin lebih layak disebut tumpukan kain hitam bau dan berdebu serta kusut penuh carut marut. setidaknya aku bangga memakai baju tersebut.
entah kapan terakhir kali beli baju baru, dan tak kuingat jumlah baju warna hitamku, tempat nyamuk2 bersarang dan meninggalkan bekas kekuningan… sialan

di sisi kanan kamar terdapat meja, di atasnya berjejer rapi (meski bukan rapi seperti yang orang lain bayangkan) buku2… aku cinta buku-buku itu
dimana pikiranku terlahir, tentunya bukan buku2 baru semacam novel remaja penuh drama atau buku kuliah yang penuh rumusan… tidak
hanya novel pembunuhan khas detektif, komik jurnalis, cerpen2 yg belum sempat kubaca, pun buku kisah tokoh besar
kertas yang mulai menguning, telipat dan sampul yg sudah sobek
aku bukan pembaca yang baik, aku ga hobi baca

kemudian baju2 tergantung yg entah dah berapa kali kukenakan dan tak kucuci. ada juga baju2 kotor (masih bingung definisi kotor) yang kutaruh di atas atau di kursi dan di dus tempat antrian baju tuk kemudian digilas air deterjen

tempatku tandas saat malam, terlelap bermimpi dan berliur… ranjang zzz
di kolongnya berserak koran2 bekas yang hendak kukliping, nyatanya sampai saat itu terserak tak tentu, tempat cermin sering tergeletak tak terjamah
aku tak pernah membayangkan wajahku lewat cermin

tatkala pagi seusai mandi lebih sering langsung menuju peradaban di luar sana tanpa sempat berkaca, dan kini cermin itu berdebu tak memantulkan cahaya wajahku yang tampak kusut, tergeletak tak bertuan di kolong ranjang

pemisah ruangku dan peradaban luar hanyalah papan sekat yang reot dan tak berkunci

yah begitulah kamarku, apa adanya ruang yang lebih pantas disebut kandang tikus, setidaknya bisa membuat temanku tersenyum … miris

kamar tempatku gaduh mengaduh, keruh riuh dan kerap terlelap
kamar tempatku kehilangan HP, menemukan jatidiri, merebahkan mimpi fatal
kamarku jatidirku

kata kakakku
"kamar mencirikan kepribadian penghuninya"

SIAL

Comments 1 Comment »